PURBALINGGA, 10 Maret, 2026 – Saat melakukan kunjungan kerja ke lokasi proyek SPHERES di Purbalingga, Jawa Tengah, Menteri Kesehatan Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, memuji progres proyek tersebut dan menetapkan target ambisius untuk perluasannya ke tingkat nasional.
“Saya melihat bagus sekali [progresnya]. Mudah-mudahan nanti bisa menjadi contoh untuk diimplementasikan di 514 kab/kota di seluruh Indonesia,” ujar Menkes Budi. Beliau juga menargetkan untuk memperluas inisiatif ini ke seluruh jaringan Puskesmas di tanah air dalam tiga tahun ke depan.

Proyek Scalable Public Health Empowerment, Research, and Education Sites (SPHERES) dipimpin oleh Kementerian Kesehatan serta OUCRU Indonesia dan bekerja sama dengan pemerintah kabupaten Purbalingga serta Lombok Barat. Didanai oleh Gates Foundation, proyek ini bertujuan untuk memperkuat kesehatan masyarakat dengan memanfaatkan teknologi digital dalam pelayanan kesehatan primer.
Dr. Christopher Elias, Presiden Pembangunan Global dari Gates Foundation, juga turut hadir mendampingi Bapak Menteri saat kunjungan tersebut. Mereka mengunjungi Posyandu Lestari 5 Bancar, Puskesmas Purbalingga, dan Public Health Data Theatre (PHDT) yang berlokasi di Kantor Dinas Kesehatan Purbalingga.

PHDT hadir sebagai terobosan baru dalam sistem kesehatan masyarakat di Indonesia. Berfungsi sebagai pusat kendali digital terpadu, fasilitas ini memungkinkan pejabat kesehatan memantau kondisi wilayah secara real-time melalui dasbor interaktif. Berbeda dengan sistem konvensional yang bergantung pada laporan bulanan statis, ‘Data Theatre’ memudahkan pemantauan tren secara instan. Jika terdeteksi lonjakan masalah kesehatan, mis. kenaikan tekanan darah di lokasi tertentu, petugas medis dapat segera diterjunkan ke lapangan.
Dr. Elias menekankan pentingnya beralih ke aksi nyata berbasis data. Ia mengatakan, “Kuncinya adalah bagaimana data terkini bisa langsung diterjemahkan menjadi langkah konkret saat itu juga. Saya sangat bangga melihat progres ini. Program ini sangat layak untuk dilanjutkan dan direplikasi.”
Tak hanya soal analisis data, terobosan lain dari SPHERES adalah kemampuannya dalam memangkas beban administrasi bagi nakes di garda terdepan. Lewat penggunaan standar pertukaran data FHIR (Fast Healthcare Interoperability Resources) dan teknologi pemindaian teks OCR (Optical Character Recognition), para petugas kini cukup memotret buku kesehatan fisik pasien agar datanya langsung tersinkronisasi secara otomatis dengan sistem nasional. Menteri Budi Sadikin menekankan bahwa inovasi ini sangat krusial bagi kesuksesan platform SatuSehat karena selama ini nakes sering kali merasa kewalahan akibat harus mengisi terlalu banyak aplikasi yang tidak saling terintegrasi.
“Dengan ini diharapkan tenaga kesehatan bisa lebih banyak melayani masyarakat, bukan sibuk mengisi laporan atau aplikasi milik kementerian maupun pemerintah daerah,” kata Menkes.

Keberhasilan SPHERES di Purbalingga dan Lombok Barat tidak lepas dari komitmen kuat para pemimpin daerah. Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, menyampaikan bahwa pemilihan lokasi proyek ini dilakukan melalui proses kompetitif guna menjaring daerah dengan komitmen transformasi digital terkuat. Senada dengan hal tersebut, Bupati Lombok Barat, Lalu Ahmad Zaini, menambahkan bahwa SPHERES sejalan dengan visinya untuk mewujudkan rekam medis digital yang terintegrasi bagi setiap warga, sejak lahir hingga lansia.
Menanggapi capaian ini, Dr. Anuraj Shankar, Principal Investigator dari OUCRU Indonesia, menjelaskan: “Dengan menjalankan proyek ini sebagai studi acak terkontrol (randomised trial) berskala besar, kami berupaya memberikan bukti ilmiah yang kuat untuk mengevaluasi dampak dari intervensi ini. Data yang terkumpul akan menjadi landasan penting dalam melakukan penyesuaian serta mengukur kelayakan program ini untuk nantinya diimplementasikan di tingkat nasional.”
Hingga saat ini, proyek SPHERES terus menunjukkan perkembangan positif di kedua kabupaten lokasi uji cobanya. Sebanyak 23 Puskesmas di kedua lokasi tersebut telah resmi terintegrasi dalam proyek ini. Tim proyek menargetkan perluasan intervensi hingga mencapai 42 Puskesmas dalam beberapa bulan ke depan untuk mematangkan cara kerja programnya sebelum diterapkan secara lebih luas di seluruh Indonesia.