Suwarti adalah seorang ilmuwan laboratorium klinis di OUCRU Indonesia. Pekerjaanya meliputi mendeteksi keberadaan penyakit, melacak evolusi patogen, dan mempelajari reaksi tubuh terhadap infeksi.
Selama tujuh tahun bekerja di OUCRU Indonesia, Suwarti telah memberikan banyak sumbangsih terhadap berbagai studi penting, termasuk studi-studi tentang Covid-19 dan kesiapsiagaan pandemi secara umum. Risetnya belakangan ini berfokus pada mempelajari reaksi tubuh terhadap vaksin Covid-19, Mpox, serta flu burung dan mengungkap pola wabah leptospirosis di Jakarta.
Melihat gelar doktoral dan perannya sebagai peneliti, banyak orang tidak menyangka bahwa karier Suwarti bermula di pabrik bumbu masak, bukan laboratorium riset klinis.
Awal yang Sederhana
Salah satu pekerjaan pertama Suwarti adalah mengawasi pengendalian mutu (quality control) di suatu pabrik bumbu masak. Pekerjaan ini adalah pilihan yang masuk akal pada masanya. Berbekal gelar sarjana jurusan Teknologi Pangan, motivasi Suwarti sangat pragmatis, yakni mencari uang sebanyak-banyaknya.
Sebagai anak terakhir dari sepuluh bersaudara, Mba Ati, nama panggilannya di kantor, datang dari keluarga yang sederhana. Ayahnya adalah buruh serabutan dan ibunya asisten rumah tangga.
Sejak kecil, ia mengiginkan hidup yang lebih baik untuk dirinya dan keluarganya. “Aku gak ingin terus-menerus hidup miskin. Aku ingin hidup nyaman. Dan aku sadar akan hal ini sejak SMP setelah melihat anak-anak lain dari keluarga yang berkecukupan ,” kata Suwarti.

Beruntung, kedua orang tua Suwarti menyadari pentingnya pendidikan dan mendukungnya mengenyam pendidikan formal semampu mereka. Dukungan tersebut membawa Suwarti sampai memperoleh gelar sarjana dari IPB pada tahun 2004.
Namun, setelah mulai bekerja dan berpenghasilan, satu pertanyaan terus mengusik benak Suwarti: Lalu, apa lagi? Apa lagi selanjutnya?
Beralih ke Dunia Penelitian Akademik
Saat berkuliah di IPB, Suwarti terkenal rajin dan berbakat di bidang biokimia. Reputasi inilah yang mendorong mantan dosen pembimbing skripsinya untuk menawari pekerjaan bagi Suwarti di laboratorium LIPI.
Posisi yang ditawarkan adalah bagian dari proyek yang berupaya memodifikasi tumbuhan agar bisa memproduksi protein yang dibutuhkan tubuh manusia. Protein buatan dari tumbuhan ini bisa berguna bagi berbagai pengobatan kondisi medis tertentu.
Proyek seperti ini terasa baru dan menarik bagi Suwarti, tetapi gajinya hanya setengah dari yang ia terima di pabrik bumbu saat itu. Meski demikian, LIPI juga menawarkan untuk membiayai pendidikan S2 Suwarti. Karena pekerjaannya di pabrik sudah terasa monoton, tawaran ini terasa masuk akal baginya.
Suwarti akhirnya mengambil tawaran tersebut dan tak lama kemudian mulai bekerja dengan LIPI sambil menempuh pendidikan S2 di program Biologi UI.

Dari sana, satu peluang membuka jalan bagi peluang berikutnya. Pendidikan S2 tersebut membawa Suwarti ke beasiswa lain untuk menempuh gelar PhD di bidang Life Sciences di Hokkaido University, Jepang, sembari bekerja di National Institute for Materials Science di kota Tsukuba. Proyek doktoralnya meneliti bagaimana material berukuran sangat kecil, dikenal sebagai nanomaterial, bisa digunakan untuk membuat vaksin bekerja lebih efektif dalam memperkuat respons imun tubuh.
Setelah lulus, ia terus bekerja di National Institute for Materials Science selama beberapa tahun untuk membantu mengembangkan vaksin TB jenis baru berdasarkan riset doktoralnya tentang nanomaterial.
Suwarti merasa keputusannya untuk meninggalkan pekerjaan yang mapan demi pendidikan tinggi dan riset kesehatan tidak sepenuhnya didasari perhitungan rasional, tetapi lebih didasari pengaruh kuat tidak langsung dari ibunya.
Ibu Iyah, ibunda Suwarti, hanya tamatan SD, tetapi ia memiliki rasa ingin tahu yang besar. Di salah satu rumah tempatnya bekerja sebagai ART, ada langganan majalah Kartini, majalah perempuan Indonesia legendaris yang membahas berbaga isu sosial, tokoh publik, serta gagasan tentang pendidikan dan kemajuan. Ibu Iyah membacanya setiap kali ada kesempatan, dan terkadang membacakan artikel-artikelnya kepada putrinya.

“Ibuku bisa dengan mudah mengenali tokoh-tokoh publik, seperti perdana menteri atau pebisnis, yang ia lihat di majalah dan menceritakan berita-berita yang ia baca,” kenang Suwarti. “Untuk seseorang dengan latar belakang pendidikannya, pengetahuan dan rasa ingin tahunya luar biasa. Kalau saja ia diberi kesempatan yang tepat, ia pasti punya karier yang sangat berbeda.”
Rasa ingin tahu itu pun menurun kepada Suwarti. Sejak kecil, ia gemar membaca koran dan rajin belajar, paling rajin di antara saudara-saudaranya.
“Aku gak pernah jadi yang paling top di SMA,” kata Suwarti. “Tapi aku selalu penasaran dan pede. Dan aku tahu bahwa pendidikan itu penting untuk mengubah status sosial seseorang.”
Kepercayaan diri inilah yang akhirnya mendorong Suwarti untuk berani mengambil risiko, seperti saat menerima tawaran LIPI, dan menyetir kariernya ke dunia sains.
Mendobrak Batasan Demi Sains
Suwarti sadar dunia akademik tidaklah mudah.
Bertepatan dengan bergabung bersama LIPI, Suwarti menikah dan mengandung tak lama kemudian. Ia didatangi banyak tanggung jawab baru secara bersamaan.
“Aku bekerja full-time di laboratorium di Cibinong sambil kuliah di UI di Depok,” ujar Suwarti. “Saat itu aku sedang hamil, lalu kemudian harus mengurus bayi yang baru lahir. Bolak-balik antara rumah, tempat kerja, dan kampus di tiga kota berbeda adalah realitas harian. Kata ‘lelah’ pun gak bisa mengungkapkan yang aku rasakan waktu itu.”
Suwarti lulus S2 bertepatan dengan berakhirnya proyek di LIPI. Ia sempat menganggur beberapa waktu sebelum akhirnya kesempatan lain datang, yakni menempuh S3 di Jepang. Suwarti bergegas mengambilnya.
Meski demikian, periode ini tidaklah mudah. Selama 1,5 tahun pertama, ia harus meninggalkan suami dan putranya yang baru berusia empat tahun di Indonesia karena keterbatasan biaya. Satu-satunya cara yang ia bisa lakukan adalah mengunjungi keluarganya di Indonesia sebisa mungkin.
Akhirnya, keadaan membaik. Suaminya juga menerima beasiswa untuk melanjutkan studi di Jepang. Sang suami membawa anak mereka, dan selama sekitar lima tahun, keluarga inti Suwarti hidup bersama di Jepang.
Ketika ditanya bagaimana ia bisa bertahan melewati tahun-tahun berat tersebut, Suwarti menunjuk kemampuannya dalam multitasking. “Aku percaya perempuan hebat dalam melakukan banyak hal sekaligus karena keadaan yang menuntut kami,” katanya. “Kami harus menyeimbangkan banyak hal, tanggung jawab rumah tangga, mengasuh anak, bahkan menyusui, di samping pekerjaan.”
Namun, multitasking saja tidak cukup, aku Suwarti. Ia juga ambisius.
“Aku tipe orang yang punya target tinggi. Aku berani bermimpi besar,” ucapnya. “Aku percaya bahwa ketika kita bersungguh-sungguh menetapkan tujuan, alam semesta akan membukakan jalan.”
Meski begitu, ia tak ingin perjalanannya dilihat sebagai usaha sendiri. Suwarti selalu mendapat dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Suaminya berbagi tanggung jawab rumah tangga dan mendukung penuh kariernya. Ibunya juga membantu pekerjaan rumah harian dan pengasuhan anak, terutama di masa sebelum dan sesudah kepulangannya dari Jepang.
“Dunia STEM tidak mudah bagi perempuan. Itu mengapa kita harus benar-benar merencanakan hidup yang kita inginkan dan memilih pasangan yang suportif. Suami dan ibu sangat mendukung cita-citaku secara konkret.”
Hidup yang Berdampak di OUCRU Indonesia
Setelah Suwarti dan suaminya menyelesaikan studi di Jepang, mereka sekeluarga kembali ke Indonesia. Tak lama kemudian, Suwarti menemukan peluang kerja di OUCRU Indonesia, tempat ia mendedikasikan karier riset pascadoktoralnya hingga saat ini.
Di OUCRU Indonesia, Suwarti telah berkontribusi dalam berbagai riset besar seperti SEACOVARIANTS, DETECSI, INACO, INTERACT, and IMOVA. Riset-riset ini mempelajari berbagai macam patogen, termasuk Covid-19, leptospirosis, HIV, dan Mpox.

“Mimpiku adalah melakukan penelitian yang memiliki dampak praktis dan nyata bagi masyarakat. Aku merasa banyak pekerjaanku di OUCRU Indonesia bersifat pragmatis,” kata Suwarti. “Studi seperti SEACOVARIANTS bertujuan memperkuat kesiapsiagaan pandemi, sementara INTERACT berfokus pada diagnosis cepat HIV untuk populasi rentan. Aku ingin pekerjaanku punya dampak nyata bagi orang lain.”
Dalam pekerjaannya, Suwarti berkolaborasi erat dengan berbagai departemen di OUCRU Indonesia dan memimpin tim beranggotakan enam orang yang sebagian besar adalah perempuan. Namun, Suwarti tidak ingin mereka sekadar mengikuti jejaknya.
“Saya ingin mereka belajar dari pengalaman saya, tetapi bukan menirunya. Saya ingin ilmuwan muda, terutama perempuan, menemukan kekuatan mereka sendiri dan membangun jalur mereka sendiri di dunia sains,” pesannya.
Perkembangan Suwarti sebagai peneliti dan pemimpin juga dibentuk melalui pelatihan dan pendampingan yang didukung oleh OUCRU Indonesia dan para mitranya. Ia mengikuti program Make A Difference (MAD) yang mengasah kemampuannya dalam memimpin dan bekerja dengan orang lain. Ia juga terpilih untuk berpartisipasi dalam ISARIC Leadership Programme, sebuah inisiatif global yang memberdayakan peneliti perempuan dari negara-negara berpenghasilan rendah-menengah agar bisa menjadi peneliti mandiri.

Selain itu, Suwarti juga merupakan bagian dari MORU–OUCRU Discovery Research Academy (MODRA), program pelatihan regional untuk ilmuwan pascdoktoral di Asia. MODRA akan memberikannya dana awal (seed funding) untuk mengeksplorasi metode baru tes leptospirosis yang lebih cepat dan praktis dibandingkan tes PCR standar. Tesnya akan berbasis LAMP dengan sistem lateral flow (serupa strip tes cepat) agar leptospirosis dapat dideteksi secara mudah tanpa laboratorium yang canggih. Tes seperti ini akan berguna bagi daerah-daerah dengan fasilitas terbatas.
Tujuan jangka panjang Suwarti adalah memperbaiki cara penyebab demam didiagnosis di seluruh Indonesia, tidak hanya leptospirosis. Ia ingin membantu faskes mengidentifikasi penyebab demam menggunakan alat diagnosis yang akurat, praktis, dan terjangkau. “Gejala demam sangatlah umum, dan penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari virus hingga bakteri yang berbeda-beda,” jelasnya. “Aku ingin menemukan cara yang mudah dan aksesibel untuk mendiagnosis penyakit-penyakit ini agar pengobatannya tepat dan pasien sehat. Itu visiku untuk negara ini.”
Suwarti sudah banyak berubah sejak bekerja di pabrik hingga sekarang, tetapi ia masih termotivasi oleh satu hal yang sama: kepeduliannya terhadap orang-orang di sekitarnya. Dahulu, kepeduliannya bersifat personal, yakni membangun hidup yang lebih baik bagi keluarganya. Saat ini, di OUCRU Indonesia, ia bekerja untuk membangun hidup yang lebih baik bagi masyarakat luas, di Indonesia dan dunia.